TEMPAT WISATA RELIGI DI PULAU BANGKA BELITUNG

1. Masjid Jami’ dan Klenteng Kung Fuk Min Kota Muntok Kabupaten Bangka Selatan

Keberadaan Masjid Jami’ dan Klenteng Kung Fuk Min di Kota Muntok Kabupaten Bangka Barat menjadi saksi hidup betapa serasinya kehidupan beragama antar pemeluk  agama Islam dan dengan para pemeluk Kong Fu Tze. Masjid Jami’ merupakan salah satu masjid tertua di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang di bangun pada tahun 1883 oleh H. Abang Muhammad Ali atau yang lebih dikenal dengan Tumenggung Kertanegara II Kelenteng Kung Fuk Min dibangun lebih kurang tahun 1800 oleh para Cina di Kota Muntok. Tempat ibadah para pemeluk Kong Fu Tze ini berdiri kokoh tepat di samping Masjid Jami’ yang terletak di samping terminal bus lama Kota Muntok.

2. Vihara Dewi Kwan Im Kabupaten Belitung Timur

Vihara Dewi Kwan In ini adalah Vihara Budhayana / Dewi Kwan In terletak berada tepat diatas bukit di Pantai Burung Mandi atau digunung Burung mandi, dari vihara ini terlihat kepulauan memperak dengan keindahan lautnya. Vihara ini secara rutin setiap tahun dikunjungi umat Budha, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dikunjungi oleh umat budha dari mancanegara. Vihara Dewi Kwan Im Kuil Budha ini merupakan tempat pemujaan Dewi Guan Yin yaitu Dewi kesuburan. Konon masyarakat Tionghoa percaya bahwa dengan memuja Dewi Guan Yin dapat membantu pasangan yang belum memiliki keturunan. Vihara ini menjadi vihara terbesar dan tertua yang ada di Pulau Belitung. Setiap harinya, vihara ini ramai didatangi pengunjung baik yang ingin beribadah maupun berwisata. Inilah Vihara Dewi Kwan Im, vihara yang kini sudah menginjak usianya yang ke-266 tahun. Vihara Dewi Kwan Im ditemukan pertama kali pada tahun 1747. Konon, Dewi Kwan Im bersembahyang di atas batu yang ada di Kon Im, salah satu tempat sembayang paling besar di vihara ini. Untuk memasuki vihara ini, Anda harus menaiki anak tangga yang berjumlah sekitar 86 buah. Vihara ini memiliki tiga tempat sembahyang. Pertama, Shimunyo yang berada di dekat anak tangga. Naik lebih ke atas, maka Anda akan menjumpai satu lagi tempat sembahyang bernama Sitiyamuni. Beranjak lebih ke atas, maka Anda akan menjumpai tempat sembahyang yang paling besar di vihara ini yaitu Kon Im.Vihara ini selalu dipenuhi warga yang ingin beribadah saat hari-hari besar keagamaan seperti saat Imlek maupun saat hari raya Waisak. Pengunjung vihara ini tidak hanya warga Indonesia, turis-turis dari luar negeri pun banyak yang berkunjung ke vihara yang terletak di Desa Burung Mandi ini. Sebagian warga mengaku, jika sembahyang dan berdoa memohon keinginan di vihara ini dapat terkabul segala keinginannya. Selain sebagai tempat ibadah, vihara ini juga memiliki pemandangan indah Gunung Burung Mandi yang terletak persis di belakang vihara ini. Jika sedang beruntung, Anda juga bisa melihat kawanan monyet yang turun dari bukit untuk mencari makan ke vihara.

3. Vihara Dewi Kwan Yin Kabupaten Bangka

Tempat ini berada dikaki bukit dan terdapat aliran air sungai, yang terletak di Desa Jelitik Kecamatan Sungailiat sekitar 15 km dari Kota Sungailiat. Menurut kepercayaan masyarakat air tersebut dapat menyembuhkan penyakit, menjadi awet muda atau meminta sesuatu yang diinginkan, di vihara ini juga tersedia kolam pemandian dan vihara kecil untuk sembahyang.

4. Masjid Jamik Kota Pangkalpinang

Masjid Jamik, terletak di Jalan Masjid Jamik, merupakan salah satu masjid terbesar dan tertua di Pangkalpinang. Dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 H atau bertepatan dengan 18 Desember 1936 Hijriah ini dibuktikan dari tulisan yang masih dapat dilihat pada meja putih terbuat dari marmer yang terletak bergeser ke barat pada pekarangan depan mesjid sekarang. Salah satu keunikan masjid ini adalah antara tangga depan (berbentuk setengah lingkaran) dengan atapnya di hiasi oleh tiang penyangga 5 buah, bisa diartikan sebagai Rukun Islam dan antara tembok depan dengan atapnya dihiasi oleh tiang penyangga kecil sebanyak 6 buah (3 sebelah kanan dan 3 sebelah kiri) dapat diartikan sebagai Rukun Iman. Memiliki tiang utama sesuai jumlah Khalifaturrasyidin, lima pintu masuk 3 di depan dan 1 disamping kiri dan 1 di kanan serta terdiri atas 3 undakan atau tingkatan dengan satu kubah dan empat menara. Masjid Jamik adalah salah satu benda cagar budaya Kota Pangkalpinang. 

5. Gua Maria Belinyu Kabupaten Bangka

Gua Maria terletak di Kecamatan Belinyu merupakan Gua Maria terbesar kedua di Asia Tenggara yang dilengkapi oleh jalan salib sebanyak 14 perhentian diperlukan waktu 1 jam untuk mengelilingi jalan tersebut. Goa ini banyak dikunjungi oleh wisatawan dari Jakarta, Bandung dan kota lainnya untuk melakukan peribadatan.

6. Klenteng Kwan Tie Miaw Kota Pangkalpinang

Kelenteng Kwan Tie Miaw merupakan salah satu kelenteng tertua yang ada di Pulaun Bangka. Kelenteng ini terletak dijalan Mayor Syafrie Rachman. Dulunya bernama kelenteng Kwan Tie Bio. Pada Kelenteng tertua di Pangkalpinang ini terdapat hiasan buah Labu (Gourd) di puncak atap kelenteng dan adanya lambang Patkwa (Pakua) didepan kelenteng yang tengahnya ada lingkaran hitam putih (Ying dan Yang), Patkwa (Pakua) melambangkan keberuntungan, rejeki atau kebahagian. Dua ciri diatas menunjukkan bahwa aliran Toisme masih merupakan yang terpenting. Kelenteng ini diperkirakan dibuat pada tahun 1841 Masehi (dari aksara cia pada sebuah Lonceng besi di kelenteng). Pembangunannya sendiri dilakukan secara gotong royong oleh berbagi kelompok Kongsi penambangan timah yang ada di Pangkalpinang, dan diresmikan pada tahun 1846, hal ini terbukti dari ucapan selamat dari beberapa perkumpulan Kongsi pada hari baik bulan tahun ke 26 Daoguang yang bertepatan dengan tahun 1846. Nama Kelenteng sudah dua kali mengalami perubahan pada masa Orde Baru kelenteng ini bernama Amal Bhakti. Pada tahun 1986 bagian depan kelenteng terkena pelebaran jalan sehingga pekarangan depan, pintu serta tembok depan mundur beberapa meter bagian altar Kuan Tie tetap utuh dan bagian depan dibangun menjadi 2 lantai. Pada tanggal 22 Februari 1998 terjadi kebakaran yang menghanguskan semua bagian kelenteng kecuali bagian kiri bangunan sejak itu dilakukan pemugaran kembali dipimpin oleh Jamal seorang ahli dalam hal Kelenteng dan pembuatan patung dan rehabilitasi selesai seperti bentuk sekarang dan diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1999 dengan nama Kelenteng Kwan Tie Miaw. Kawasan Kelenteng Kwan Tie Miaw ini sekarang ditambah dengan lokasi Gang Singapur dan Pasar Mambo sedang dikondisikan sebagai salah satu Obyek wisata kota Pangkalpinang yaitu Wisata Budaya dan Wisata Belanja. Lokasi ini diupayakan menjadi China Town (untuk mengingatkan kepada wajah kota lama Pangkalpinang yang sangat dipengaruhi oleh rumah rumah kelenteng Cina) dan dijadikan juga sebagai pusat upacara peringatan Hari Raya Imlek, puncak hari raya Cap Go Meh, kegiatan sembahyang Rebut dan kegiatan Pot Ngin bun. Kegiatan Pot Ngin Bun merupakan satunya ritual yang ada dikelenteng Kwan Tie Miaw. Kegiatan ini dilakukan untuk menolak bala dan segala wabah penyakit yang mewabah di Masyarakat seperti wabah Beri-beri yang mewabah di Bangka sekitar tahun 1850-1860.

7. Masjid Al Mukarrom Kota Pangkalpinang

Masjid Al Mukarrom terletak di Desa Melayu Tua Tunu persis di ujung Kampung Tua Tunu. Sekarang terletak persis diujung kampung Tua Tunu. Masjid ini didirikan pada tahun 1928 dan merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Pulau Bangka.Menurut Informasi merupakan masjid tempat sholat Jumat pertama sekali didirikan di Pangkalpinang.

8. Kathedral Santo Yoseph Kota Pangkalpinang

Gereja Kathedral Santo Yoseph yang sekarang ini awalnya dibangun pada tanggal 5 Agustus 1934 dengan nama Pelindung Santo Yoseph. Nama Pastor Boen kemudian diabadikan menjadi Balai Pertemuan Paroki Pangkalpinang dengan nama Balai Mario Jhon Boen. Gereja Kathedral santo Yoseph saat ini merupakan salah satu Benda cagar Budaya kota Pangkalpinang yang dilindungi negara.

9. GPIB Maranatha Kota Pangkalpinang

Perkembangan agama Protestan di Pangkalpinang seiring dengan pendirian Gereja GPIB (Gereja Prostestan di Indonesia Bagian Barat), yang berkedudukan di Jakarta. Untuk peribatan pemluk agama Protestan di Pangkalpinang dibangunlah gereja yang selanjutnya disebut GPIB Jemaat maranatha yang berlokasi di Jalan Sudirman No.1 Pangkalpinang. Gereja ini awalnya bernama Kerkeraad der Protestansche Gemeente to Pangkalpinang,dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda oleh Residen JE. Eddie pada tahun 1927, bersamaan dengan pembanguan menara air di Bikit Mangkol. Setelah masa kemerdekaan, melalui Indische Kerk (GPI), nama gereja diubah menjadi Gereja Proyestan Indonesia Barat (GPIB) Maranatha Pangkalpinang. Pemerintah Belanda menepatkan seorang pendeta pertama kali bernama JN Beiger untuk melayani dan mengurus jemaat GPIB Maranatha Pangkalpinang. Gereja ini merupakan salah satu dari 8 (delapan) Jemaat GPIB yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 6 (enam) Jemaat berad di Pulau Bangka dan 2 (dua) Jemaat berada di Pulau Belitung. Gereja ini dapat menampung jemaat sekitar 200 orang. Gedung Gereja Maranatha Pangkalpinang memiliki ciri khas yang unik dan menarik karena adanya menara jam yang besar serta dibangun bersama Pastorinya (Rumah Pendeta). Bangunan ini terletak diareal tanah seluas 1.567 M2. Bangunan terbuat dari beton dengan atap berbentuk limas, dinding dari bata yang dilapisi batu granit. Dinding bagian depan berbentuk segitiga diatasnya terdapat Salib. Bangunan terdiri dari satu bangunan inti dan dua bangunan pendukung pada bagian kanan dan belakang. Pada bangunan tengah (ruang utama/inti) atapnya terdapat menara yang diatasnya terdapat Salib. GPIB Maranatha merupakan salah satu dari sembilan Benda Cagar Budaya Kota Pangkalpinang yang dilindungi negara.

10. Kuburan Cina Sentosa Kota Pangkalpinang

Kuburan Cina Sentosa di bangun pada tahun 1935 terletak di Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang. Luas komples sekitar 27 Ha dan sampai saat ini terdapat lebih kurang 12.00 makam, yang tertua adalah makam kekuarga Boen Pit Liem yang dipugar pada tahun ke 4 setelah pemerintahan Sun Yat Sen, jadi diperkirakan pada tahun 1915. Makam-makam cina ini dibangun dalam bentuk dan arsitektur yang unil dan menarik serta dihiasi dengan tulisan aksara Cina yang indah dan sangat jelas sekali menunjukkan status sosial ekonomi orang yang dimakamkan. Makam umumnya dibangun pada lokasi perbukitan, hal ini menunjukkan penghargaan dan penghormatan yang tinggi orang Cina terhadap leluhur dan nenek moyangnya. Tanah Pekuburan Sentosa merupakan sumbangan dari Marga Boen, menurut tugu pendiri makam yang dibanun tahun 1935, makam ini didirikan oleh emapt orang yaitu Yap Fo Sun tahun 1972, Chin A Heuw tahun 1050, Yap Ten Thiam tahun 1944 dan Lim Sui Cian. Kompleks pemakaman merupakan makam perkuburan Cina terbesar se Asia Tenggara dan sangat unik dan menarik denga arsitektur yang berbeda-beda pada tiap makam, bahkan ada makam yang dibangun dengan batu granit seharga 500 juta rupiah. Selain itu dari seluruh makam terdapat 2 (dua) makam yang beragama Islam. Setiap tahun didakan tradisi Sembahyang Kubur (Ceng Beng atau Qong Ming), seluruh keluarga yang ada di perantauan pulang dan sembahyang dan memberikan penghormatan terhadap leluhur. Puncak pelaksanaan Ceng Beng dilaksankan pada tiap tanggal 5 April.

11. Masjid Raya Tua Tunu Kota Pangkalpinang

Masjid Raya Tua tunu merupakan masjid terbesar di Bangka Belitung, terletak ditengah-tengah perkampungan Tua Tunu Kelurahan Tua Tunu Indah Kaecamatan Gerunggang. Diresmikan pada tanggal 20 Maret 2008 oeh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, bapak taufik Effendi. Masjid ini dibiayai dari dana Pemerintah Kota Pangkalpinang, bantuan Pemrintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan lain-lain. Masjid Raya Tuatunu merupakan masjid berarsitektur modern dan tradisioanl yang d;engkapi dengan fasilitas canggih sepeti beduk elektribik, fasilitas internet dan alin-lain. Selain sbagai tempat beribadah masjid ini diharapkan menjadi pusat study Islam dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bernuansa islam.

12. Pagoda Vihara Puri Tri Agung Pantai Tikus Sungai Liat Kabupaten Bangka

Pantai tikus merupakan sebuah pantai yang dapat di kategorikan pantai paling panjang di kota sungailiat kabupaten bangka propinsi bangka belitung. Sebagian masyarakat mengenal pagoda vihara Puri Tri Agung ini dengan pagoda kuil saolin, hal ini sejak awal pembangunannya tidak adanya plakat nama di Pagoda Vihara Puri Tri Agung Pantai Tikus Bangka ini dan tersiar isu bahwa nantinya di pagoda vihara ini akan di datangkan beberapa biksu saolin dari kuil shaolin. Pembangunan kuil ini sendiri telah berlangsung lebih dari 12 tahun, dan pada tanggal 18/1/2015 telah di resmikan Pagoda Vihara Pantai Tikus sungailiat Bangka ini oleh Menteri Agama dan Menteri Pariwisata. Namun untuk perluasan kawasan sendiri masih terus di lakukan di sebelah timur bagian halaman vihara ini. Vihara Puri Tri Agung ini memiliki interior yang terbilang cukup mewah di tambah arsitektur bangunan yang kokok dan elegan menambah daya tarik sendiri terhadap Pagoda Vihara Puri Tri Agung Pantai Tikus Bangka Belitung. Hal yang menarik bila berada di kuil ini adalah kita dapat melihat dengan jelas laut dan bibir pantai tikus dari atas vihara ini, tentu pagoda vihara pantai tikus ini bakal menjadi sebuah objek wisata yang menariki dan wajib untuk di kunjungi. Dengan kehadiran pagoda vihara Pantai tikus ini, setidaknya dapat mengangkat kembali kawasan wisata pantai tikus yang terlupakan.

Penulis: 
Adwin
Sumber: 
Kantor Perwakilan

Artikel

21/05/2018 | Badan Penghubung Provinsi
21/05/2018 | Badan Penghubung Provinsi
21/05/2018 | Badan Penghubung Provinsi
21/05/2018 | Badan Penghubung Provinsi
09/05/2018 | Badan Penghubung Provinsi